Seiring dengan perkembangan politik di dunia internasional, khususnya terkait fakta kegagalan negara-negara kapitalis dunia dan peristiwa Arab spring, gema perjuangan penegakan Khilafah makin menjadi fokus perhatian publik dunia. Selain Hizbut Tahrir yang secara massif telah menggerakkan jutaan umat Muslim di dunia untuk memperjuangkan penegakan kembali Khilafah, kini berbagai gerakan Islam di dunia secara terang-terangan juga menyatakan turut memperjuangkan Khilafah.

Pada Mei tahun lalu, misalnya, lebih dari 50.000 orang menghadiri rapat akbar bersama yang diadakan oleh jamaah Ikhwanul Muslimin dan Salafi di distrik Haram, Giza, Mesir. Mereka menyatakan bahwa Ikhwan dan Salafi adalah satu, dan keduanya berusaha untuk menerapkan syariah Islam. Mereka juga menyatakan bahwa persatuan negara-negara Arab dan negara-negara Islam pasti akan datang yang akan dipimpin oleh seorang Khalifah (Eramuslim.com, 09/05/2011).

Dr. Mahmud Ghazlan, selaku juru bicara jamaah Ikhwanul Muslimin, menyampaikan bahwa pendirian Khilafah Islamiyah merupakan impian jamaahnya, sebagaimana yang dilansir situs berita Al-Ahram Mesir (11/2/2012). Syaikh Muhammad Shalah asy-Syarkawi, anggota Badan Syariah Mesir menyerukan untuk segera menegakkan kembali Khilafah Islam. Seruan tersebut disampaikan dalam khutbahnya di depan massa jamaah Masjid an-Nur di Abbassiya, Mesir (Egybase.com, 04/5/2012).

Permasalahan penting berikutnya adalah bagaimana metode (thariqah) yang sahih untuk penegakan Khilafah. Sebab, kesalahan metode tidak hanya menggiring perjuangan tersebut menuju gerbang kegagalan, namun juga akan membawa umat pada perjuangan yang bertentangan dengan syariah. Karena itu, kesahihan metode tersebut harus distandarisasi berdasarkan metode yang ditempuh oleh Rasulullah saw. beserta para Sahabat yang telah berhasil menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah.

Metode Penegakan Khilafah

Kaum Muslim yang menginginkan tegaknya kembali negara Khilafah tentu harus mendedikasikan diri mereka untuk mempelajari dan mendalami metode ini serta menerapkannya tanpa penyimpangan sedikitpun. Siapapun yang melakukan penelaahan mendalam terhadap sirah Rasulullah saw. akan menemukan bahwa beliau menempuh tiga tahapan penting dalam mewujudkan pemerintahan Islam di Madinah.


a. Tahap Pertama: Kaderisasi (Tatsqif wa Taqwin).

Sebagaimana diketahui, ayat yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saw. adalah ayat yang membantah dengan sangat fundamental sendi-sendi kehidupan masyarakat Makkah yang telah eksis:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ *

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (QS al-Alaq [96]: 1-2).

Ayat ini memerintahkan kepada Rasulullah saw. dan semua pengikutnya sampai Hari Kiamat untuk membaca, mempelajari dan melaksanakan kehidupan islami atas nama Allah, bukan atas nama berhala orang-orang Quraisy atau berhala peradaban Barat seperti sekularisme, liberalisme dan demokrasi.

Dalam mengawali langkah dakwahnya, Rasulullah saw. mendatangi orang-orang terdekat beliau dan melakukan kontak dengan orang-orang Makkah untuk mengajari mereka al-Quran. Beliau kemudian memerintahkan kepada mereka yang lebih dulu memeluk Islam untuk mengajarkan al-Quran kepada yang lainnya. Rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam oleh beliau dijadikan sebagai pusat pembinaan.

Pada tahap ini Rasulullah saw. melakukan dua hal. Pertama: Pembinaan akidah dan syariah hingga terbentuk para kader berkepribadian Islam. Rasulullah saw. membina mereka untuk meningkatkan taraf berpikir dan merefleksikan ayat-ayat al-Quran yang diturunkan Allah SWT. Beliau menanamkan keyakinan yang kokoh kepada mereka sehingga bekas-bekas kekufuran dan kejahiliahan lenyap dalam diri mereka dan digantikan dengan akidah Islam.

Kedua: Pengorganisasian Sahabat untuk membentuk kelompok dakwah atau partai politik (hizb) yang secara solid dan berjamaah bergerak di tengah masyarakat. Dengan demikian bukan hanya Rasulullah saw. seorang diri yang melakukan pembinaan tersebut, para Sahabat lain pun mencari dan membina orang yang baru masuk Islam. Sebagai contoh, beliau pernah mengutus Khubbab bin al-Arts untuk mengajarkan al-Quran kepada Zaenab binti al-Khaththab dan suaminya, Said, di rumahnya.

Berdasarkan aktivitas Rasulullah saw. tersebut, maka perjuangan penegakan Khilafah saat ini harus pula dilakukan melalui wadah partai politik (kutlah/hizb) yang melakukan proses kaderisasi di tengah-tengah masyarakat. Partai ini harus mampu membina kadernya untuk menenggelamkan seluruh pemikiran kapitalisme, komunisme, sekularisme, nasionalisme, dan semua yang bertentangan dengan Islam. Dengan begitu mereka mampu menjadi orang-orang yang pantas dan layak mengemban dakwah Islam dan mampu memikul beban dakwah.

Melalui aktivitas ini para kader ditempa dengan pemahaman Islam hingga melahirkan kader yang mujahid (pejuang), muta’abbid (ahli ibadah), mufakkir (pemikir), dan siyasi (politisi). Rasulullah saw., misalnya, telah membina para Sahabat berubah secara fundamental. Beliau telah menjadikan Umar bin al-Khaththab dari seseorang yang pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup hingga menjadi seseorang yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya demi tegaknya Islam.


b. Tahap Kedua: Membangun Kesadaran Umat (Tafa’ul wa Kifah)

Setelah Rasulullah saw. membina para Sahabat dan berhasil membentuk partai yang solid dan kuat, Allah SWT memerintahkan beliau untuk keluar secara terang-terangan sekaligus menentang pemikiran-pemikiran orang-orang Makkah serta para elit politiknya yang memberlakukan aturan kufur kepada masyarakat Makkah (Lihat QS al-Hijr [15]: 94).

Hal tersebut dilakukan oleh beliau untuk menumbuhkan kesadaran umum masyarakat tentang kerusakan tatanan Jahiliah saat itu sekaligus menumbuhkan harapan dan keyakinan masyarakat terhadap ajaran Islam yang beliau dakwahkan. Untuk menumbuhkan kesadaran tersebut Rasulullah saw. menempuh beberapa hal secara bersamaan. Pertama: Pergolakan pemikiran (ash-shira’ al-fikri). Rasulullah saw. senantiasa melakukan pergolakan pemikiran terhadap berbagai ide dan pandangan Jahiliah, baik berupa pemahaman (mafahim), tolok ukur (maqayis), maupun keyakinan (qana’at). Misalnya, beliau mengungkapkan secara lantang realitas tuhan kaum kafir, sebagaimana yang Allah SWT firmankan:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ (٩٨)

Sesungguhnya kalian dan apa (berhala) yang kalian sembah adalah umpan neraka Jahanam (QS al-Anbiya’ [21]: 98).

Beliau juga menentang sikap hidup kafir Quraisy yang merasa aib bila memiliki bayi perempuan hingga mereka harus membunuhnya.

Untuk saat ini, partai politik yang berupaya menegakkan Khilafah juga harus menentang dan menjelaskan kebatilan segala ide atau pandangan yang lahir dari akidah kufur seperti kapitalisme, sekularisme, pluralisme, sosialisme, dan liberalismeDemikian juga terhadap berbagai ide yang lahir darinya seperti demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan jender, dan sebagainya. Apabila hal ini dilakukan secara terus-menerus maka masyarakat akan dapat memahami kebatilan dan kerusakan berbagai sistem aturan yang bersumber dari ide-ide kufur tersebut. Sebaliknya, masyarakat semakin dapat memahami dan meyakini keunggulan sistem Islam apabila diterapkan.

Kedua: Perjuangan politik (al-kifah as-siyasi). Aktivitas al-kifah as-siyasimerupakan aktivitas yang ditujukan untuk menyikapi realitas politik kekinian yang terjadi pada saat tertentu. Misalnya, pada masa Rasulullah saw., mengurangi timbangan sudah menjadi kebiasaan. Untuk menyikapi hal tersebut, Allah SWT menurunkan ayat-ayat-Nya dalam QS al-Muthaffifin yang kemudian diserukan oleh Rasulullah untuk melawan dan menghapus kebiasaan tersebut. Begitu juga dengan kebiasaan mereka yang menjerumuskan budak wanita dalam pelacuran dilawan oleh Rasulullah saw. dengan menyampaikan QS an-Nur ayat 33.

Saat ini, setiap kejadian/peristiwa politik kekinian yang bertentangan dengan Islam dan merugikan umat Islam harus pula dilakukan al-kifah as-siyasi. Misalnya, partai Islam harus melakukan aktivitas al-kifah as-siyasipada saat Pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik yang dapat menyengsarakan umat. Begitu juga terhadap berbagai produk hukum/aturan yang menzalimi masyarakat seperti UU Migas, UU Sumberdaya Air, UU Penanaman Modal, RUU Perguruan Tinggi, RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender, dan sebagainya. Caranya adalah dengan menjelaskan kepada masyarakat bahaya dan kerugian yang akan diderita masyarakat serta pertentangannya dengan syariah Islam.

Ketiga: Membongkar rencana jahat kaum kafir (kasyf al-khuthath). Rasulullah saw sering menyampaikan wahyu terkait rencana jahat kaum kafir. Beliau, misalnya, membongkar rencana jahat tokoh Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, Umayyah ibn Khalaf, dan Walid bin Mughirah. Demikian juga beliau telah membongkar persekongkolan kaum kafir dengan kaum munafik. Allah SWT membongkar rencana jahat ini dalam QS al-Muddatstsir ayat 18-26.

Meneladani hal ini, dalam upaya penegakkan Khilafah, partai politik penting untuk membongkar makar negara kafir imperialis di negeri-negeri Muslim seperti rencana jahat AS dan sekutunya di Irak, Afganistan, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, dan sebagainya. Partai Islam harus membongkar agenda imperialisme ekonomi di balik berbagai program yang dikendalikan oleh IMF, Bank Dunia, Usaid, Ausaid, dan sejenisnya.

Jika semua aktivitas itu dilakukan secara intensif dan massif maka taraf berpikir umat akan makin meningkat. Pembelaan dan dukungan terhadap syariah dan Khilafah beserta para pejuangnya akan semakin kokoh dan besar. Sebab, di mata umat akan semakin tampak siapa sebenarnya yang berjuang untuk membebaskan mereka dari penjajahan.

c. Tahap Ketiga: Istilam al-Hukmi dengan Dukungan Ahlun-Nushrah

Setelah partai politik dan kaderisasinya berhasil serta mendapat dukungan masyarakat untuk menegakkan negara yang menjalankan syariah Islam secara kaffah, maka legitimasi penguasa yang ada menjadi rapuh. Pada saat itulah diperlukan adanya dukungan dari para ahlun-nushrah bagi terjadinya penyerahan kekuasaan (istilam al-hukmi).

Rasulullah saw. telah melakukan aktivitas mencari dukungan dari paraahlun-nushrah ini selama 3 tahun. Beliau pergi dari satu kabilah (suku) yang kuat ke kabilah kuat lainnya, mengajak mereka untuk membantu beliau meraih kekuasaan serta mengimplementasikan Islam. Secara keseluruhan beliau mengunjungi lebih dari 40 kabilah, di antaranya adalah kabilah Kindah, Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Kalb, Bakar bin Wail, Hamdan, dan lain-lain. Kepada setiap kabilah tersebut Rasulullah saw. mengajak mereka untuk beriman dan memberi nushrah kepada beliau dalam rangka meraih kekuasaan untuk tegaknya hukum Allah.

Saat ini, mereka yang masuk ke dalam ahlun-nushrah adalah setiap pemilik kekuatan termasuk militer. Dengan adanya dukungan ahlun-nushrah ini penyerahan kekuasaan akan terjadi dengan damai. Demikianlah sebagaimana yang telah dialami oleh Rasulullah saw. saat menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah.

Syar’i dan Rasional

Ketiga tahapan tersebut secara rasional akan mengantarkan perjuangan penegakkan Khilafah pada titik keberhasilannya. Pasalnya, proses pembinaan dan penyadaran umat akan mewujudkan kesadaran bahwa menegakkan syariah dan Khilafah merupakan kewajiban asasi bagi tiap Muslim, dan bahwa berdiam diri terhadap akidah dan sistem kufur adalah kemaksiatan. Kesadaran inilah yang akan mendorong umat untuk berjuang menegakkan syariah dan Khilafah secara sungguh-sungguh dan konsisten. Kesadaran tersebut juga akan melahirkan dukungan dari elemen umat Muslim yang saat ini secara riil memiliki kekuasaan dan kekuatan. Tanpa adanya kesadaran dan dukungan seperti ini, maka Khilafah tidak akan pernah bisa diwujudkan.

Namun, tentu tidak sekadar alasan rasional tersebut. Yang lebih penting, ketiga tahapan tersebut merupakan metode syar’i dalam penegakan Khilafah yang mengharuskan setiap Muslim terikat padanya. Metode ini merupakan bagian dari hukum syariah yang digali dari aktivitas Rasulullah saw. dalam mewujudkan Daulah Islamiyah di Madinah. Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat serta banyak menyebut Allah (QS al-Ahzab [33]: 21).